Saya Lebih Memilih Dorama Jepang

     Sebelumnya saya mohon maaf dulu atas judul di atas yang terkesan ‘sara’ bagi para penggemar K-Pop, K-Lover, atau K-Drama, haha. Saya hanya ingin bilang bahwa ini cuma masalah selera saja bagaimana orang bisa merasa lebih nyaman akan sesuatu yang dia suka. Di sini sesuai dengan judul di atas saya lebih merasa suka dan nyaman dengan tontonan Dorama Jepang. Sebenarnya sih ini disebabkan karena dulunya pas masih kecil, di tivi swasta banyak sekali yang menayangkan program atau tayangan dorama Jepang. Satu hal yang membuat saya kepincut awalnya itu adalah karena soundtrack mereka yang terdengar unik dan enak. Dari soundtrack yang kemudian berlabuh dengan menyimak jalan cerita mereka. Saya tidak kecewa dengan jalan cerita yang dihadirkan dalam Dorama Jepang karena mereka menyajikannya tidak bertele-tele dengan cerita yang sangat menarik ditambah episode-nya yang sedikit. Paling cuma sampai 12 episode saja, atau mentok-mentoknya mungkin 13 episode. Tidak seperti Drama Korea yang bahkan bisa menyampai ratusan episode. Kalau episode sinetron Indonesia, hemm gak perlu dibahas deh semua orang juga tahu.

300px-Tiger_&_Dragon

     Salah satu poster J-drama yang berjudul “Tiger and Dragon” yang diperankan oleh Tomoya Nagase

    Selain itu saya suka dengan akting para aktor dan aktris Jepang. Kalau yang saya lihat di kebanyakan dorama mereka terlihat natural dan mirip dengan realita yang sebenarnya. Tidak seperti sinetron di sini yang kalau di rumah saja dandanannya mesti menor dan pakai pakaian yang tidak pantas gitu. Apanya yang realita kalau kayak begitu coba!? Belum lagi hal yang paling saya suka dari Dorama Jepang adalah mereka sering kali memberikan kata-kata petuah atau quote semangat yang mengharu biru. Bagi siapa yang mendengarnya pun pasti akan suka. Saya kerap berpikir bahwa mungkin salah satu yang membuat Negri Sakura itu maju adalah karena mereka selalu saling mengerti dan menyemangati. Kalau di beberapa dorama untuk peran antagonis juga tidaklah berlebihan bila dibandingkan dengan sinteron yang jahatnya na’udzubillah. Walaupun di dorama dia berperan jahat tapi masih dalam batas wajar bahkan terlihat sportif dengan pemeran protagonis. Tema-tema yang diangakat dalam dorama Jepangpun sangat variatif dan tidak melulu tentang cinta. Jaman dulu mungkin banyak dorama yang bertemakan cinta atau cinta segi banyak khas film Jepang. Akan tetapi untuk saat ini dorama-dorama Jepang telah banyak berinovasi yang menghasilkan ide cerita yang unik, kreatif, dan berbeda serta menganggkat tema-tema yang tidak biasa seperti tema tentang kepolisian, detektif, kedokteran, guru atau pendidikan, kehidupan, penyakit, anak sekolahan, persahabatan, pengorbanan hidup, semangad hidup, dll. Hebatnya lagi seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, walaupun temanya beragam seringkali mereka menyisipkan kata-kata semangad, mendidik, dan penuh makna. Itu yang saya suka dari Dorama Jepang.

     Ada banyak hal yang membuat pikiran saya terbuka dengan menonton dorama Jepang, selain karena suka dengan suasana sinematografi negeri Jepang yang rapi dan keren. Hal lain yang saya suka adalah mereka selalu menampilkan bagaimana caranya menghargai sesuatu, contohnya adalah pekerjaan. Banyak peran di dorama yang mengangkat tema profesi seperti polisi, detektif, dokter, suster, guru, satpam, bahkan sampai penjaga swalayan, penjaga toko, dan tukang pemersih jalanan . Di sana kerap kali digambarkan bagaimana mereka berusaha dan bertanggung jawab semaksimal mungkin akan profesi apapun yang mereka geluti. Ini menunjukkan bahwa orang-orang Jepang sangatlah menghargai profesi atau pekerjaan mereka. Saya yang menontonnya merasa bahwa profesi atau pekerjaan apapun di Jepang itu terasa sangat baik dan manis karena mereka sangat menghargai pekerjaan dan profesi mereka. Mungkin kalau di sini pekerjaan yang sempurna adalah pekerjaan kantoran yang kerap mengenakan jas atau kemeja putih saja. Akan tetapi tidak untuk di Jepang dan dorama Jepang sendiri, mereka selalu menghadirkan situasi dimana kita harus menghargai apapun pekerjaan kita dan bertanggung jawab pula di dalam menjalankannya. Selain itu bentuk penghargaan lain yang sering terlihat di dorama Jepang adalah, ketika si pemeran diberi sesuatu oleh orang lain, misalnya benda, maka benda itu akan dijaga betul oleh si penerima benda tadi. Saya tidak tahu mengapa dalam dorama seringkali menayangkan hal seperti itu, mungkin karena segala sesuatu di Jepang itu sangat mahal sehingga ketika mereka (orang Jepang, red) diberi sesuatu oleh orang lain maka mereka tahu bagaimana caranya menghargai pemberian orang lain dan akan menjaganya dengan baik pula.

     Di berbagai film atau dorama juga sering terlihat secara detail bagaimana pekerjaan dokter atau polisi bekerja. Mungkin kita juga bisa melihat hal ini di banyak film atau serial Hollywood, akan tetapi untuk Asia sendiri, film atau dorama Jepang sudah banyak membuktikannya. Tidak seperti film atau sinetron Indonesia yang jarang sekali menampilkan sisi yang berbeda dari suatu profesi. Kebanyakan sinetron sih cuma menggambarkan seadanya saja seperti misalkan polisi yang hanya bisa menangkap bandar narkoba atau pelaku kejahatan lainnya saja. Tapi di situ tidak dijelaskan bagaimana proses dan usaha dari si polisi tersebut bisa menangkap pelaku kejahatan itu. Kalau hal tersebut digambarkan secara baik dan detail mungkin itu akan menjadi tontotan Indonesia baru yang menarik.

watashitachi_no_kyokasho

     J-drama “Watashitachi no Kyoukasho”

(was taken from http://www.dramafans.org/drama/watashitachi_no_kyokasho)

     Untuk Ending sendiri mereka sering menyajikan beragam twist yang membuat kita tidak habis pikir sebelumnya. Banyak sutradara dorama yang sering menghadirkan twist-twist menarik dan kreatif di akhir cerita. Saya pernah nonton salah satu dorama Jepang yang judulnya itu “Watashitachi no Kyoukasho”. Dorama itu menceritakan tentang perjuangan seorang hakim perempuan yang berusaha membuktikan kasus meninggalnya seoran siswi SMP yang di-bully oleh teman-teman sekolahnya. Dalam dorama ini walaupun siswi SMP tersebut sudah meninggal akan tetapi namanya kerap kali disebut-sebut. Kalau tidak salah namanya itu adalah Aizawa Asuka dan diperankan oleh Shida Mirai. Saya awalnya menyangka anak tersebut meninggal bunuh diri karena tak tahan di bully oleh teman-temannya di sekolah. Ternyata pas di akhir cerita baru saya ketahui bahwa Asuka meninggal karena terjatuh dari jendela sekolah saat sedang mengobrol dengan teman dekatnya. Jadi sebelumnya teman dekat Asuka sudah duluan di-bully oleh teman-temannya karena dekat dengan seorang cowok di kelas. Dengan harapan bisa menolong teman dekatnya itu, Asuka tadi rela mengorbankan diri untuk di bully oleh teman-temannya dengan menyebarkan gossip bohong mengenai cowok tadi. Alhasil Asuka ketahuan sebagai penyebar gossip tadi dan akhirnya menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Kemudian di dalam kelas saat hujan turun, Asuka dan teman dekatnya tadi mengobrol sambil duduk di mulut jendela mengenai pembullyan yang telah diterimanya itu. Saat obrolan telah selesai dan hendak berdiri, kaki Asuka terselip yang membuat dia kehilangan kendali dan keseimbangan sehingga akhirnya terjatuh dari gedung sekolah. Begitulah akhirnya Asuka meninggal. Itu merupakan salah satu twist menarik yang dihadirkan oleh salah satu dorama Jepang yang pernah saya tonton. Kisah-kisah dorama memang selalu fokus dengan jalan cerita yang ada tanpa harus ngalor-ngidul dengan adanya penambahan episode atau pemain. Ini membuat kita yang menontonnya-pun jadi merasa nyaman dengan jalan cerita yang mereka hadirkan. Ditambah adanya twist yang menarik dan kreatif di setiap akhir episode.

     Karena sering menonton dorama Jepang akhirnya membuat saya penasaran dengan bahasa Jepang itu sendiri. Jadi saat ini saya banyak mengoleksi dan menonton dorama Jepang dengan tujuan agar dapat memperdalam kemampuan saya dalam berbahasa Jepang. Setidaknya dalam belajar bahasa, saya memiliki video yang menyajikan cara mereka berkomunikasi sehingga memudahkan saya dalam memperlajari dan memahami bahasa mereka. Ini terjadi bukan hanya di bahasa Jepang saja, akan tetapi terjadi juga untuk film-film Hollywood. Saat menonton film Hollywood saya lebih banyak memperhatikan bahasa dan tata cara mereka berkomunikasi dengan bahasa Inggris dibandingkan menyimak cerita yang dihadirkan dalam film-film Hollywood tersebut. Terdengar lucu bukan!? Silahkan anda tertawa bila anda ingin tertawa membaca pendapat saya ini. Oke, balik ke bahasan awal, sekali lagi saya tekankan di sini bahwa ini kembali lagi ke selera masing-masing. Banyak juga koq drama Korea yang mirip dengan penggambaran dorama Jepang seperti yang saya jelaskan di atas tadi. Maksudnya banyak sekali drama Korea yang memiliki cerita dan karakter yang tidak kalah dan berkualitas dengan dorama Jepang. Jadi semua itu kembali lagi ke selera dan kenyamanan masing-masing dalam menonton. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Salam,

Putri Permatasari

6 thoughts on “Saya Lebih Memilih Dorama Jepang

  1. aku juga lebih suka dorama jepang daripada drakor
    jepang lebih berkesan dan manusia.
    pesannya dapet dari semua sisi gak mulu lope lope doank yg dangkat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s