Cerita [agak] Menyeramkan di Kalimantan

Ini merupakan pengalaman agak misteri saya [#halah, haha] yang saya alami ketika berada di Kalimantan Timur saat bertugas sebagai surveyor konsultan di sana. Tepatnya sih ketika saya mengambil data di salah satu desa yang berada di Kecamatan Tenggarong Seberang. Jadi di sana ketika saya dan tim menelusuri nilai konservasi tinggi di goa yang bernama Goa Batu Gelap, saya main masuk saja ke goa tersebut tanpa mengucapkan permisi terlebih dahulu. Dalam perjalanan menuju goa, saya tidak berpikiran untuk baca-baca [berdzikir dalam hati] karena saya terlalu menikmati perjalanan saya di dalam hutan. Karena memang jalan menuju goa tersebut dikelilingi oleh hutan dan bukit-bukit yang cukup tinggi.

???????????????????????????????

Jalan masuk menuju Goa Batu Gelap bersama tim dan pendamping lokal

Menurut pendamping lokal yang menemani saya sewaktu itu mengatakan bahwa Goa Batu Gelap merupakan goa alam satu-satunya yang terdapat di Kalimantan Timur. Goa tersebut terdiri dari gabungan beberapa goa yang kemudian menyatu menjadi Goa Batu Gelap. Luas goa-nya adalah 2 km. Goa tersebut memiliki mata air yang digunakan oleh masyarakat sekitar untuk irigasi sawah. Dikatakan sebagai Goa Batu Gelap karena goa tersebut di dalamnya terdiri dari batu-batu alam yang berukuran besar dan kecil. Goa ini merupakan goa horizontal dengan keadaan di dalamnya sangat gelap. Oleh karena itu maka goa tersebut disebut sebagai Goa Batu Gelap. Saya ingat betul kegiatan survei goa ini dilakukan pada hari sabtu. Kegiatan surveipun berakhir sekitar pukul 4 sore.

IMG_0117 - Copy

Ini merupakan salah satu gabungan dari Goa Batu Gelap. Harus turun ke bawah dulu dan di situ banyak sekali batu-batunya

Saat kembali pulang ke Mess, waktu sudah memasuki pukul 6 sore lebih dan saya pun berisitirahat di sana. Esok harinya saya melakukan aktivitas seperti biasa seperti makan, bercengkerama dengan teman-teman dan mengerjakan laporan kegiatan. Saat itu kondisi saya masih sehat, namun saat memasuki pukul 12 siang, ketika saya sedang mengerjakan laporan saya merasakan ada sesuatu yang aneh dan berbeda dengan badan saya. Badan saya tiba-tiba lemas yang kemudian diikuti dengan meningkatnya suhu tubuh saya. Bukan hanya itu, hidung saya berair dan seluruh badan saya pegal-pegal semua. “Ada apa dengan badan saya ini? kenapa jadi begini? Wah ada yang gak beres nih…” pikir saya kala itu. Sementara teman yang lain juga pada sibuk dengan laporan mereka masing-masing, sayapun kemudian langsung bilang pada salah satu teman saya yang juga merupakan teman sekamar saya, bahwa saya nge-drop dan tidak enak badan. Teman sayapun lantas menyuruh saya untuk beristirahat. Saat itu saya cuma berpikiran bahwa ini hanyalah sakit flu biasa yang diakibatkan kelelahan luar biasa karena menyusuri goa seharian.

Tiba-tiba sore harinya saya diingatkan oleh teman saya yang lain terkait kegiatan saya di goa kemarin. Dia bertanya apakah saya merasakan sesuatu yang berat dari badan saya. Sayapun menggeleng hanya saja saya merasa badan saya pegal-pegal semua, bahkan teramat pegal. Sampai-sampai untuk jalan pun saya harus memincangkan kaki untuk memudahkan mobilitas saya. Kemudian teman saya mengingatkan saya perihal memasuki goa, apakah saya mengucapkan salam atau tidak. Itulah yang kemudian mengentakkan saya karena kemarin saya memang tidak mengucapkan salam atau permisi terlebih dahulu. Teman saya lantas mengingatkan saya dengan ‘sesuatu yang ghaib’ perihal saya yang tidak mengucapkan salam/permisi saat memasuki goa tersebut. Bisa jadi ada ‘sesuatu’ yang mengikuti saya dari goa itu karena saya tidak mengucapkan salam. Bahkan teman saya mengira bahwa saya telah kesurupan oleh ‘sesuatu’ itu [na’udzubillah]. Sudah menjadi sesuatu yang wajib bagi kita bila ingin memasuki suatu wilayah yang baru maka kita harus mengucapkan salam atau permisi terlebih dahulu. Saat itu mungkin karena terlalu menikmati perjalanan [atau bahkan karena lupa], saya tidak mengucapkan salam sehingga mungkin ‘sesuatu’ di goa tadi tidak suka dan akhirnya ‘mengikuti’ saya hingga ke mess sehingga mengakibatkan saya jadi sakit dan pegal-pegal begitu. Itulah anggapan teman-teman saya kala itu.

???????????????????????????????

Jalan Menuju Goa yang dipenuhi dengan pepohonan dan hutan yang lebat

???????????????????????????????

Ini merupakan salah satu bagian dalam dari Goa Batu Gelap

Saat itu ketika saya diceritakan seperti itu memang jelas membuat saya bergidik karena tidak pernah terbersit oleh saya hal ini akan berkaitan dengan hal itu. Saya hanya berpikir bisa jadi sakit kala itu disebabkan oleh kelelahan karena menyusuri goa. Tapi mungkin bisa jadi juga karena berhubungan dengan ‘sesuatu’  yang tadi itu, wallahualam.

Ketika saya mengingat-ingat kembali, memang ada beberapa orang desa dan pendamping lokal yang mengatakan bahwa goa tersebut sangat angker karena dihuni oleh banyak sekali makhlus halus. Bahkan selama menyusuri goa kita dilarang untuk berteriak karena jika melakukan itu maka sesuatu yang buruk akan terjadi kepada kita. Pendamping lokal juga bilang kalau dulu sempat ada program TV yang kerap menayangkan tema kesurupan ingin melakukan shooting di goa itu. Akan tetapi karena menyadari goa tersebut memiliki banyak penghuni, pihak TV akhirnya membatalkan kontrak shooting tersebut. Selain itu ada juga penduduk yang pernah bersaksi melihat buaya dan macan putih jadi-jadian berkeliaran di sekitar kampung yang merupakan wujud dari makhluk halus penunggu goa tersebut.

???????????????????????????????

Ini juga merupakan salah satu bagian dalam dari Goa Batu Gelap tersebut. Penuh dengan tumpukan dan susunan batu-batu alam dengan suasana goa yang gelap dan penuh misteri

Sebenarnya makhluk jadi-jadian tersebut muncul juga karena ada alasannya yaitu karena masyarakat sudah acuh dengan kelestarian hutan di sana. Menurut cerita yang berkembang ada beberapa orang yang suka mengambil kayu dan batu dari dalam goa dan hutan tersebut. Ditambah lagi adanya isu yang mengatakan bahwa goa tersebut akan dihancurkan. Hal itu mengakibatkan penghuni goa di sana menjadi memberontak dan tidak ingin goa tersebut dihancurkan atau dirubah fungsinya. Mereka ingin agar goa itu tetap selalu ada dan lestari sampai kapanpun. Menurut sejarah pada awalnya Goa Batu Gelap merupakan tempat pelarian dari 3 raja, yaitu raja Kutai, raja Dayak, dan raja Jawa. Diyakini oleh masyarakat sekitar bahwa ketiga raja tersebut merupakan penghuni dari Goa Batu Gelap tersebut.

Semoga ini bisa menjadi pembelajaran bagi saya dan siapapun yang membaca bahwa kita perlu menghargai tempat baru yang kita datangi atau kunjungi. Hal itu bisa dilakukan dengan mengucapkan salam/permisi terlebih dahulu. Terlebih bagi kita yang muslim, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mengucapkan salam terlebih dahulu ketika memasuki tempat baru

Salam,

Putri Permatasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s