Jakarta Keterlaluan (?)

Hari Kamis kemarin tepatnya tanggal 29 Januari 2014, saya dan semua orang dihadapkan pada kondisi Jakarta yang sudah kelewat keterlaluan. Bagaimana tidak, kita semua terjebak dalam kemacetan yang luar biasa parah disebabkan wilayah Jakarta khususnya Gatot Subroto dan sekitarnya terendam banjir. Bahkan ada beberapa orang di bus jemputan yang tidak bisa masuk kantor karena jalan yang biasa mereka lalui terkunci akibat banjir.

Saat itu saya keluar dari rumah jam 5.15 pagi dan bus jemputan berangkat dari Depok menuju Senayan pukul 05.30 pagi. Setelah di dalam bus, saya menyempatkan diri untuk tidur namun kemudian terbangun pada pukul 07.00 pagi. Saat terbangun saya kira saya sudah sampai di kantor, namun ternyata masih di jalan. Posisi bus saat itu benar – benar tidak jalan sama sekali karena macet total. Bus baru bisa jalan pukul 09.00 pagi dan akhirnya saya sampai di kantor tepat pukul 09.30 pagi. Bayangpun saat itu saya dan teman – teman kantor sejurusan harus menunggu sampai 4 jam di jalan, padahal itu Cuma perjalanan dari Depok menuju Senayan saja dan itu harus memakan waktu hingga 4 jam perjalanan!

ImageBanjir di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan (Bisa dilihat banjir meluap sampai ke pinggir jalan). Poto diambil dari dalam bus Hari Rabu, 29 Januari 2013

Asal tahu ya, perjalanan kantor saya yang lokasinya di Senayan ini sebenarnya tidak seberapa jauh bila saja di Jakarta tidak ada yang namanya macet. Kemarin ketika orang – orang di Jakarta masih sibuk dengan libur lebaran, jarak dari Depok ke kantor saya itu Cuma 50 – 55 menit saja. Sedangkan biasanya kalau macet memakan waktu hingga 1.5 – 2 jam perjalanan. Namun kemarin ini adalah yang terburuk , sampai 4 jam perjalanan bayangkan! Benar – benar payah.

Saya sendiri sempat melihat genangan – genangan air di pinggiran jalan Gatot Subroto. Kondisi air saat itu cukup parah karena ada sebagian air yang meluap sampai ke jalan raya. Hemm benar – benar parah deh. Sesampainya di kantor banyak orang yang mengeluh atas keterlambatan waktu yang  kelewat kurang ajar itu. Bahkan bos dan teman seruangan saya yang rumahnya di Bogor pun mengalami hal yang sama. Lebih parahnya, mereka baru tiba di kantor itu jam 12.30 siang! Padahal mereka mulai start jalan dari Bogor menuju Senayan itu pukul 05.30 pagi, sama seperti saya. Kalau di pikir – pikir perjalanan selama itu sama saja kayak kita melakukan perjalanan sampai ke Jawa Tengah karena saking lamanya.

Ngomongin banjir memang gak ada habisnya, segala cara diupayakan oleh pemerintah untuk mengatasi hal ini. Tapi apalah upaya bila dari dulu sampai sekarang pola kehidupan masyarakat kita tidak berubah. Tidak usah membayangkan suatu sistem canggih yang dilengkapi dengan teknologi super dahsyat buat menangkal banjir di Jakarta. Karena sepertinya cara itu masih jauh di awang – awang. Bagaimana dengan kesadaran lingkungan kita? Apa kita masih membuang sampah sembarangan? Apa kita masih membuang sampah di sungai? Bagaimana dengan hal itu? Bahkan di berita kemarin saya sempat melihat ada orang yang membuang kasur dan perlengkapan rumah tangga lainnya ke sungai. Dimana pikiran orang – orang yang melakukan itu.

ImageBanjir di depan Apartemen Palmcourt Gatot Subroto, Jakarta Selatan

(Rabu, 29 Januari 2013)

Bukannya lebay atau banyak bacot, sebenarnya saat saya melihat orang yang dengan sengajanya membuang sampah sembrangan, saya merasa tindakan mereka itu sama saja dengan membunuh lingkungan. Apalagi sampah yang dibuang itu terbuat dari bahan yang membuatuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk bisa terurai. Rasanya saya di sini tidak perlu membeberkan sampah jenis apa yang membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk bisa terurai. Karena menurut saya, pembaca di sini bukanlah anak TK atau anak SD yang perlu dibimbing untuk memilah – milah jenis sampah. Kalian pasti tahu jenis sampah apa itu. Kita tidak perlu menyamakan diri kita dengan para pembunuh lingkungan itu yang dengan kepura – puraannya membuang sampah sembarang. Kita harus berbeda. Kadang kalau dipikir mau sampai kapan sih kita pura – pura enggak peduli gini sama lingkungan. Saya ingat betul dulu ketika SMA, guru fisika saya pernah bilang bahwa kita sebenarnya bisa saja mempercepat terjadinya kiamat, yaitu dengan melakukan pengrusakan atau ekplorasi besar – besaran terhadap lingkungan. Tapi apa iya kita mau melakukan hal sekejam itu. Lingkungan tentu harus kita selamatkan.

Pokoknya sekarang ini ya, ngatasin banjir itu caranya gak lain gak bukan adalah dengan tidak membuaang sampah sembarangan. Nah bersamaan dengan itu kita lakukan penanaman pohon di Jakarta yang dilanjutkan dengan biopori atau teknologi lainnya yang digunakan untuk mencegah banjir. Menanan pohon merupakan tindakan yang mutlak karena tahu sendiri kan Jakarta masih bermasalah dengan ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau di Jakarta masih jauh dari normal. Seperti yang kita ketahui, syarat RTH itu minimal harus 30%. Sementara Jakarta masih tertinggal jauh dari angka tersebut. Gak heran sih melihat kecenderungan orang – orang Jakarta yang bersifat konsumtif. Sekali melihat lahan kosong, bukannya itu dikelola dengan baik buat anak cucu ke depan, malah dijadiin gedung atau mol.

Selain itu mengingat kondisi Jakarta yang sudah sesak dipenuhi penghuni, ada baiknya aspek penggunaan atau pengaturan lahan lebih diperhatikan lagi. Saya rasa Jakarta dan sekitarnya sudah tidak cocok lagi menggunakan metode rumah konvensional yang datar begitu. Menurut saya (mungkin) akan lebih baik bila dibuat rusun (rumah susun) atau apartemen bagi masyarkat kita. Mengingat lahan semakin sempit yang ditambah dengan jumlah penduduk yang meningkat dan lahan hijau yang semakin berkurang pula setiap harinya. Maka menurut saya pembangunan rusun merupakan suatu solusi yang bijak dalam mengatasi masalah banjir dan ruang di Jakarta. Negara yang sudah menerapkan metode ini salah satunya adalah India. India sudah menerapkan metode ini, mengingat India merupakan negara dengan populasi penduduk kedua terbesar di dunia. Saat saya berkunjung ke India, saya banyak menemukan apartemen di sana (walaupun di sana masih banyak juga sih orang – orang yang tidur di jalanan alias homeless). Alangkah baiknya bila Jakarta menerapkan metode seperti ini. Saya bukan ahli tata ruang, namun saya tahu bahwa konsep membangun apartemen di suatu kota merupakan salah satu solusi yang bisa diimpelementasikan guna mengatasi masalah di dalamnya, salah satunya adalah banjir. Selain itu dengan adanya rusun/apartemen dapat difungsukan untuk menghemat lahan yang sisanya nanti bisa digunakan sebagai lahan hijau atau ruang terbuka hijau atau hutan kota.

Tapi saya masih punya harapan besar dengan para petinggi di Jakarta saat ini . Saya percaya bahwa Pak Joko Widodo/Jokowi selaku Gubernur DKI Jakarta saat ini – yang juga merupakan almamater sekaligus kakak angkatan di Fakultas Kehutanan UGM – pasti punya strategi dewa buat mengatasi hal – hal kronis yang terjadi di Jakarta saat ini. Apalagi beliau memiliki latar belakang yang sama dengan saya, well setidaknya lingkungan menjadi hal utama yang perlu dibenahi terlebih dahulu. Penanganan banjir dan macet memang memerlukan waktu yang lama, tapi itu bukanlah suatu alasan buat kita harus menunda – nunda. Butuh kerja sama dari kita semua untuk mengatasi hal ini. Tegas pada diri sendiri untuk membuat lingkungan kita menjadi nyaman. Jangan menyalahkan lingkungan ketika bencana itu terjadi karena sebenarnya itu adalah ulah dan akibat dari perbuatan kita sebelumnya yang semena – mena terhadap alam. Jadi ayok deh buat lingkungan nyaman dengan tidak membuang sampah sembarangan. Itu aja deh simpel nya. Semoga berguna.

Salam,

Putri Permatasari

2 thoughts on “Jakarta Keterlaluan (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s