[Forest_GAM] Kisah Air Garam di Gelas dan Danau

Kisah ini saya ambil dari milis rimbawan alumni Fakultas Kehutanan UGM: Happy reading guys…!

Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah ke rumah seorang tua yang bijaksana. Langkahnya gontai dan wajahnya terlihat ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.

Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya…”, ujar Pak Tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah ke samping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi danau di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.

Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi danau yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam danau itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan danau itu.

“Coba, sekarang ambil air dari danau ini, dan minumlah”.

Saat anak muda itu selesai mereguk air itu, Pak Tua bertanya lagi, “Bagaimana rasanya?”

“Segar”, sahut tamunya.

“Apakah kamu merasakan pahitnya garam di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi.

“Tidak”, jawab si Anak Muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si Anak Muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping danau itu.

“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan tetap sama tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan tergantung pada perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita.”

“Jadi, saat kamu merasakan kepahitan, masalah dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.

“Jangan jadikan hatimu itu sempit seperti gelas, tapi buatlah luas laksana danau yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.

Hati yang luas dan lapang akan bisa menerima masalah dan kepahitan yang bagaimana pun.

(pengarang anonim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s