Indonesia Harus Bisa Mengantri

Uuh, sebal sekali rasanya melihat orang yang tidak tahu dan tidak mengerti dengan yang namanya mengantri. Sebelumnya saya mohon maaf sekali atas pernyataan saya yang sangat meledak-ledak ini, padahal saya sudah beberapa lama tidak menulis di blog ini dikarenakan kerumpian dalam pekerjaan , haha. Dan sekarang tiba-tiba saya malah marah-marah di sini. Ah, biarlah, toh juga kalau saya marah-marah di depan orang yang tidak bisa mengantri itu akan menjadi sia-sia belaka saja.

Lanjut ke bahasan awal dimana saya ingin menulis unek-unek saya tentang kelakuan oknum yang tidak pandai mengantri di tempat umum, bahkan berujung pada cemoohan dan pertikaian orang-orang yang ada di sekitarnya. Jangan membayangkan sebuah bangsa yang besar macam Jepang atau Amerika dimana warganya sangat patuh terhadap pertauran yang ada. Membandingkannya dengan negara Thailand saja untuk urusan tertib terhadap peraturan yang ada, rasa-rasanya negara kita ini masih tertinggal jauh. Dan lagi, kata-kata yang perlu ditekankan di sini adalah tata tertib dalam mengantri. Kalau dipikir-pikir apa sih yang membuat kita begitu asing dengan istilah ‘mengantri’ sehingga membuat banyak sekali orang di sini (bahkan anak-anak muda-nya juga) tidak sadar akan budaya ini? Mereka justru pada saling serobot demi mendapatkan tempat yang paling awal tanpa melihat bahwa ada orang sebelum mereka yang berhak mendapatkan tempat lebih dulu? Maaf, bukan saya sok tahu atau sok paling tahu, tapi ketidaktahuan dan ketidaksadaran kita akan budaya mengantri inilah yang membuat kita cukup memalukan di mata bangsa lain. Saya pernah mengalami beberapa pengalaman yang membuat saya cukup naik darah dikarenakan adanya oknum memalukan yang tidak sadar akan pentingnya budaya antri ini.

Image

Gambar diambil dari: http://www.ekomarwanto.com/2013/03/menemukan-strategi-antrian-yang-baik.html

(tanggal 12 September 2013 Pukul 13.00 WIB)

1.         Sekitar 3 bulan yang lalu, saat saya sedang melakukan pengisian pulsa lewat salah satu ATM di Bandara Soekarno – Hatta. Saya tiba-tiba dikejutkan dengan teguran oleh salah seorang bapak-bapak kepada pemuda yang main nyerobot antrian di ATM tersebut. Si pemuda yang menyerobot itu berdiri di belakang saya dan kala itu saya masih melakukan transaksi di mesin ATM. Si bapak tersebut menegur karena seharusnya orang yang ingin menggunakan ATM itu harus mengantri di luar bukan di dalam box ATM. Karena memang seharusnya orang yang mengantri di ATM itu kan memang di luar. Bapak itu juga menjelaskan hal itu kepada si pemuda tadi. Cuma karena si pemuda tadi keras kepala dan tidak bisa dikasih tahu, dia malah balik nyolot membalas teguran si bapak tadi. Padahal kalau saja si pemuda tadi cukup berpendidikan, ketika dia diberi tahu oleh seseorang bahwa telah menyelak dari antrian, seharusnya dia bisa sadar. Ini malah yang ada dia makin menyerobot antrian. Si bapak itupun tidak tinggal diam dan langsung menegur keras pemuda tadi. Ditambah lagi sebenarnya si bapak tadi dibantu oleh orang lain yang juga menegur si pemuda tadi. Tapi si pemuda itu tetap tidak bisa dikasih tahu dan makin nyolot ke mereka.  Saya yang mendengar pertikaian mereka sontak kaget dan agak dibuat geram oleh tindakan tak tahu malu pemuda itu yang membuat saya hampir mengeluarkan kata-kata sara (karena memang pemuda itu beretnis tertentu). Tapi, ah sudahlah tak ada gunanya mengeluarkan kata-kata itu. Alhasil sayapun mengurungkan niat untuk melontarkan kata-kata itu. Memang sih kalau sudah kejadian seperti ini, kitapun berharap ada fasilitas yang ditingkatkan lagi misalnya adanya satpam yang menjaga di sekitaran ATM atau dipasangnya papan pengumuman yang menunjukkan dimana seharusnya pengantri menunggu antrian. Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini.

Kemudian kembali ke cerita di atas, akhirnya sayapun keluar dari box ATM dan melihat keadaan mereka dari luar. Ternyata si pemuda tadi dihardik oleh pengunjung ATM lainnya atas tindakannya yang menyerobot antrian. Saya yang melihat itu hanya bisa geram dalam hati saja melihat tindakan tak senonoh si pemuda tadi. Padahal sebenarnya kalau di lihat dari segi fisik, si pemuda tadi cukup baik dan sangat berpindidikan, namun sayang itu tidak dibarengi dengan sifat dia yang seharusnya menaati peraturan. Sungguh memalukan !

2.         Hal ini berbeda dengan kejadian di atas, ini terjadi saat saya sedang berada di Stasiun Bogor. Pagi hari setelah sampai di sana para penumpang kereta pun turun dan berjalan menuju pintu keluar. Sesampainya di sana, kitapun menunggu antrian untuk bisa keluar dari stasiun. Pada saat sedang menunggu itulah, ada seorang perempuan yang menyerobot masuk ke dalam antrian saya. Si perempuan itu kebetulan masuk ke dalam antrian orang yang berdiri di depan saya. Tiba-tiba orang yang ada di depan saya menegur si perempuan tadi yang kemudian dibalas dengan wajah cuek dan pura-pura tidak tahu oleh si perempuan tadi. Kesal melihat tindakan itu, saya yang berdiri di belakang orang yang menegur itupun langsung menegur satpam yang menjaga di pintu keluar itu dengan suara kencang berharap agar didengar oleh si perempuan tadi. “Pak, gimana sih itu tadi ada orang yang nyerobot ngantri, masak didiemin aja! Gimana sih PAK!!??”. Kemudian si satpam tadi menjawab “Iya mbak, kalau saya tahu ada yang menyerobot antri, saya akan tegur koq mbak, Cuma tadi saya enggak lihat orang nya aja mbak”. “WHAT!!! Gak lihat lu bilang!? Kemana aje lu berdiri dari tadi!?” keluh kesal saya dalam hati. Akhirnya saya keluar dari pintu keluar dirundung dengan perasaan kesal karena melihat orang yang lagi-lagi tidak tahu malu menyerobot antrian.

3.         Kalau yang ini terjadi di salah satu minimarket di dekat rumah saya. Sebenarnya ini bukan pengalaman saya sih, saya hanya menyaksikannya saja. Ada seorang bapak-bapak yang sudah mengantri di cashier, kemudian tiba-tiba masuklah seorang gadis ke dalam antrian tersebut; – menyerobot maksudnya. Kemudian si bapak tadi menegur gadis itu, namun sang gadis hanya tertunduk dengan cueknya sambil bilang bahwa dia itu ikut antrian temannya. Padahal si bapak tadi sudah mengantri di cashier dari tadi sebelum si gadis itu datang. Sikapnya yang tak tahu malu sambil tertunduk menyerobot antrian itulah yang bikin saya tak habis pikir, “Lu masih muda aja udah main curang, gimana lu udah gede!? Dasar gak tahu malu!”. Si bapak-bapak itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah si gadis tadi.

Itulah seklumit cerita tentang orang-orang yang hobbi-nya menyerobot antrian. Padahal di balik mengantri itu sebenarnya tersirat suatu pembelajaran yang berguna bagi kita. Mungkin kita akan berpikir bahwa mengantri itu hanya akan membuang waktu saja. Padahal dengan mengantri kita bisa belajar bagaimana rasanya bersabar menunggu sesuatu. Ini memang terlihat aneh, tapi itulah yang sebenanrnya. Coba apa yang akan dirasakan oleh orang-orang yang suka menyerobot tadi, bila posisinya itu direbut dengan paksa oleh orang lain. Tentu tidak mau bukan? Nah kita bisa belajar hal itu dari mengantri. Dan yang paling penting dari proses pembelajaran mengantri itu adalah bahwa Kita tidak boleh semena-mena mengambil hak atau jatah orang lain. Siapa sih orang yang akan rela bila hak kita diserobot atau diambil paksa oleh orang lain? Pasti semuanya tidak akan rela. Itu lah hikmah terpenting yang bisa saya ambil dari proses pembelajaran mengantri itu.

Ngomong-ngomong soal ini, kemarin saya dapat info dari teman saya bahwa ada seorang guru dari Australia yang menjelaskan beberapa manfaat dari mengantri. Harapannya bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Yuk lihat manfaatnya:

1.       1. Dengan mengantri, kita akan belajar manajemen waktu. Jika kita ingin mendapatkan antrian paling depan maka kita harus datang lebih awal dan itu butuh persiapan yang lebih awal juga.

2.       2. Dengan mengantri, kita akan belajar bersabar, menunggu giliran tiba, terutama jika kita berada di antrian paling belakang.

3.       3. Dengan mengantri, kita akan belajar menghormati hak orang lain (see.). Orang yang datang lebih awal akan dapat giliran lebih dulu.

4.   4. Dengan mengantri, kita akan belajar disiplin. Aturan mengantri adalah tidak menyerobot dan itu berarti tidak boleh mengambil hak orang lain (see again.).

5.   5. Dengan mengantri, kita akan belajar kreatif, untuk membunuh kebosanan saat mengantri, kita akan diransang untuk melakukan suatu aktifitas seperti membaca buku, medengarkan musik, bermain game, dsb.

6.       6.   Dengan mengantri, kita bisa belajar bersosialisasi  yaitu dengan menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

7.   7. Dan dengan mengantri itupula lah, kita bisa belajar sabar. Sabar dalam menjalani proses untuk mencapai tujuan kita, sehingga kita tidak melegalkan cara-cara kotor dan licik dalam mencapai tujuan kita.

Itulah seklumit hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari mengantri. Mohon maaf lagi sebelumnya di sini saya tidak bermaksud menggurui atau sok tahu, kita pasti akan senang bila dihargai. Untuk itu mari kita saling menghargai sesama dengan tertib dalam mengantri. Karena proses dalam mengantri itu sangat penting untuk hidup kita. terima kasih. Semoga berguna.

Salam,

Putri Permatasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s