Cerita Seru Lainnya Dari Borneo

     Ahh akhirnya ada kesempatan menarik untuk menuangkan cerita unik di blog ini karena saya cukup memiliki cerita dan pengalaman yang super selama bekerja di Kalimantan kemarin. Karena kerjaan kemarin menharuskan saya keluar-masuk hutan, hal ini membuat saya banyak mengalami pengalaman yang tidak terduga sebelumnya. Mungkin untuk sebagian orang yang mumpuni di lapangan menganggap cerita ini merupakan suatu hal yang lumrah atau biasa saja, akan tetapi karena saya baru pertama kali keluar-masuk hutan di Kalimantan, ini tentu menjadi pengalaman tersendiri bagi saya.haha.

1. Kehilangan GPS di Hutan Rimba

   Mungkin ini merupakan satu hal yang lumrah dialami oleh sebagian orang yang bekerja di lapangan, terlebih di dalam hutan. Terkadang hal-hal diluar dugaan seperti ini terjadi karena kecerobohan salah satu pihak, salah satunya adalah kecerobohan saya, hee. Karena tidak terkunci dengan kencang mengakibatkan badan GPS-nya itu terlepas dan jatuh di hutan. Di bagian belakang GPS itu terdapat karabiner dan pengunci. Dengan karabiner itulah biasanya orang menggantungkan GPS  mereka di celana atau tas. Saat GPS itu digantungkan di celana rekan kerja saya, kita semua tidak sadar bahwa GPS sudah terlepas dan jatuh di dalam hutan. Saya dan rekan baru tersadar ketika saya menanyakan jam ke dia. Betapa kagetnya kami saat mengetahui GPS sudah raib. Kemudian diketahui bahwa hal itu disebabkan kecerobohan saya sendiri yang lupa mengunci kuat GPS tersebut. Akhirnya posisi kami yang saat itu sudah berada di luar hutan mengharuskan kami masuk kembali ke dalam hutan untuk mencari GPS tersebut. “Coba bayangkan betapa rempongnya kami mencari GPS yang bentuknya tidak seberapa itu di dalam luas dan rimbanya hutan lindung Kalimantan itu!?”

     Akhirnya dengan tekad dan keyakinan saya bahwa GPS itu akan kembali ditemukan, kami semua masuk kembali ke dalam hutan. Posisi hutan memang sangat curam dengan jurang yang ada di sebelah sisi kami. Saat itu kami berpikir bila GPS itu jatuh ke dalam jurang maka habislah kami. GPS sangat diperlukan dalam kerjaan saya kemarin karena kita harus menitik nilai konservasi tinggi yang ada di masyarakat dengan menggunakan GPS itu. Istilah kata GPS merupakan alat operasional kami dalam bekerja kemarin. Apa jadinya bila GPS itu hilang coba? yang ada saya harus mengganti GPS itu ke perusahaan. Tahu sendirikan harga satu GPS saja bisa mencapai 2 jutaan.hedeeh #tepokjidat. Tapi saya berkeyaninan bahwa GPS itu pasti akan ditemukan. Saya sih mikir hematnya, GPS itu kan berat, jadi ketika dia terjatuh ke tanah maka posisi jatuhnya pun akan stabil saat menyentuh tanah dan tidak akan tergelinding atau ngegelosor kemana-mana. Jadi pasti GPS itu akan ketemu! Mata saya pun tidak terlepas melihat lantai hutan di sebelah kanan dan kiri. Posisi saat itu jurang ada di sebelah kanan saya namun mata saya tetap tertuju pada arah kiri karena saya yakin bahwa GPS itu tidak mungkin jatuh ke dalam jurang terlebih rekan saya saat itu mengatakan bahwa dia menggantukan GPS-nya itu berlawanan dengan arah jurang sehingaga tidak mungkin GPS itu jatuh ke dalam jurang. Akhirnya berkah orang sabar (halah hahaha), GPS itu pun ketemuuuu…!!!  Posisi GPS saat ditemukan berada di semak-semak tanah seberang jurang dan dalam keadaan yang sama dengan layar menghadap ke atas dengan tulisan “Lost Reception Satellite“. Saat menemukan kembali GPS tersebut tuh senangnya bukan main banget, kayak nemuin hartu karun di tengah hutan, girang dan seneng banget hahaha. GPS itu lantas saya pegang dan saya pastikan untuk dikunci serapat-rapatnya agar tidak jatuh lagi.

2. Sendirian di Tengah Hutan

     Ini pengalaman lainnya saat di Kalimantan kemarin. Karena medan di Kalbar itu sangat berat akhirnya rekan kerja saya yang seorang laki-laki menyuruh saya untuk tidak ikut survey, padahal saat itu posisi kami sudah di tengah hutan. Hal ini disebabkan saat kita ingin mensurvei air terjun di sana, kita harus menyebrang sungai. Nah sungai itu tidak memiliki jembatan, jadi penghubungnya hanyalah sebuah batang pohon besar yang sengaja diposisikan tidur agar bisa menjadi alat penghubung masyarakat sekitar sebagai jalan menuju air terjun itu. Karena terlalu riskan, akhirnya rekan saya menyuruh saya untuk tidak ikut. Alhasil saya sendirian lah di dalam hutan menunggu rekan saya dan pendamping lokal. Posisi saya saat itu tepat di depan sungai sendirian ditambah waktu itu juga sudah sore banget, bahkan sudah mau manghrib malah. Kebayang dong gimana krik, krik, krik-nya!? haha.

     Selama menunggu rekan saya, saya cuma memandang sekeliling hutan yang sangat sunyi. Sebenarnya sih waktu itu yang bikin ‘nuansa horror-nya’ kerasa banget karena sungainya itu. Percis kayak di film-film horror, mistik banget apalagi airnya tenang-tenang menghanyutkan gitu.hiiii. Air sungainya tuh agak keruh terus di tambang lagi di sisi sungainya itu berjejer pohon-pohon yang ukurannya gede-gede plus itu udah sore banget. Jadilah horror-nya dapet banget gubraaak. Apalagi pas lagi nunggu gitu sering banget kedengaran suara-suara aneh gitu, entah suara kayak langkah kaki, suara kayak orang lewat, atau suara lainnya deh. Padahal di situ cuma ada saya doang, hiiiiii……Cuma saat itu saya berfikir mungkin itu suara burung atau binatang yang nyentuh dahan pohon aja terus nimbulin suara gitu. Dan tidak mungkin juga di hutan itu ada singa atau harimau berkeliaran karena saya tahu itu sebenarnya hutan yang sudah dikelola oleh masyarakat jadi tidak mungkin ada hewan buas berkeliaran di dalam sana.haha. Sembari menunggu rekan gitu saya selingi baca doa atau berdzikir dalam hati untuk nenangin pikiran. Karena jujur saya merasa enggak nyaman aja sama ‘suara-suara’ tadi. Selain baca doa/berdzikir, saya lanjutin aja dengan iseng-iseng menggambar untuk nenangin pikiran lagi. Kalau tidak salah saya menunggu sendirian di dalam hutan itu sekitar 30 menit lebih lah. 30 menit itu berasa seabad boo, nunggu sendirian sore-sore di dalam hutan. Kemudian enggak lama dari saya yang gambar-gambar iseng itu, rekan saya yang didampingi oleh dua orang pendamping lokal tadi muncul dari seberang sungai. Lega rasanya melihat mereka di sana, Alhamdulillahirrobil’allamin, akhirnya mereka datang juga haha.

3. Kehujanan Di Tengah Goa Belantara

     Ini terjadi pada saat survei pertama kali dilakuukan di salah satu desa yang ada di Kalimantan Barat. Saat itu kami melakukan peninjauan terhadap goa alam yang ada di sana. Bersama rekan dan dua orang pendamping lokal, kami menyusuri goa tersebut. Kami harus menyusuri lembah dan bukit, istilahnya sih naik turun gunung gitu, haha. Agak jauh sih memang cuma alhamdulillah perjalanan menuju goa-nya lancar. Sampai saat tiba di Goa yang memang saat itu sudah sore banget (lagi-lagi sore terus, haha), kami berempat terjebak hujan. Goa ini juga merupakan goa alam yang suasananya tuh gelap banget. Ketika kami ingin memoto air terjun yang ada di dalam goa itu, sesuatu yang aneh terjadi di kamera kami. Karena kamera kami sudah lowbat, foto-foto air terjun yang diambil pun tidak terlihat sama sekali. Semua gambarnya gelap, padahal saat itu walaupun hujan sudah turun, keadaan di atas tuh masih cukup terang. Saya kurang faham apakah lowbat-nya baterai kamera itu akan mempengaruhi cahaya pengambilan gambar dalam kamera. Cuma yang jelas menurut keterangan dari pendamping lokal mengatakan kalau air terjun itu memang sangat magic. Kita diharuskan ijin terlebih dahulu bila ingin datang atau memotret air terjun di sana. Mungkin gelap-nya gambar yang terambil di kamera itu disebabkan karena tidak dilakukannya ijin terlebih dahulu kepada ‘penunggu’ di sana saat memasuki wilayah air terjun tersebut. Wallahu’alam bishawab.

4. Jumpalitan Di Dalam Hutan

     Ini bisa dibilang konyol karena ini saya alami ketika melakukan pengambilan data di salah satu desa di Kalimantan Barat. Selama mensurvei nilai konservasi tinggi di sana, cuaca memang sangat panas sehingga membuat saya kehilangan konsentrasi berjalan. Jadi misal ketika di lapangan saya sudah terlalu capek, maka yang saya alami adalah pikiran saya menjadi kosong yang kemudian dilanjutkan dengan melamun. Kalau sudah kayak gini jalan pun jadi sempoyongan yang akhirnya akan berujung jatuh atau jatuh bangun alias jumpalitan di dalam hutan.haha. Jatuh atau jumpalitan di dalam hutan sering banget saya alami saat mensurvei kemarin. Dari mulai jatuh terus bangun terus jatuh lagi terus bangun lagi terus jatuh lagi terus bangun lagi. Udah biasa lah. Belum itu saja. Saya juga pernah terpeleset di sungai saat ingin menaiki jembatan yang ada di sungai itu. Saat hendak menaiki jembatan itu, tangan saya meraih pegangan yang terbuat dari bambu. Kemudian karena terlalu licin, sepatu saya terselip yang mengakibatkan badan saya terhempas jatuh ke sungai. Basah kuyup euy. Bukan hanya itu, bambu yang saya pegang tadi mengenai hidung saya ‘pletaaaak’. Bukan cuma kencang, bambunya sampai patah tepat di hidung saya. Kebayang dong kerasnya gimana!? haha. Alhamdulillah tidak apa-apa, paling memar aja di bagian hidung haha. Pernah juga mata saya kecolok ranting yang ada di dalam hutan. Euuh rasanyaaa……bikin mata bombaiii, haha. Selain itu yang namanya kebaret atau kecakar-cakar rotan sih udah jadi makanan setiap hari di sana.haha. Seru lah pokoknya.

     Itu semua pengalaman seru yang saya alami selama di Kalimantan kemarin. Mungkin untuk beberapa orang yang juga bekerja di lapangan, hal seperti ini adalah hal yang lumrah banget. Akan tetapi karena saya baru pertama kali ke Kalimantan, maka ini menjadikan pengalaman tersendiri bagi saya.haha. Sama satu hal lagi sih, di dalam hutan itu perlu menggunakan insting dan selalu berbaik sangka pada sesuatu, Ini mungkin terdengar sederhana, tapi bangi saya yang sudah mengalaminya akan sangat berarti sekali. Semoga bermanfaat. Terima kasih

Salam,

Putri Permatasari

2 thoughts on “Cerita Seru Lainnya Dari Borneo

  1. Hehehe, pengalaman pertama jumpalitan di hutan Kalimantan ya mbak. By the way, itu yang ditinggal sendirian berani juga mbak, udah agak sore padahal lumayan riskan, untung jaman sekarang bukan jamannya kayau mengayau lagi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s