Kekuatan Seorang Perempuan

Singkat cerita sekitar dua minggu yang lalu saya diurut oleh salah seorang tetangga saya. Beliau adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain demi menyambung hidup dan membiayai keluarga. Oke, sebelumnya saya ingin mengklarifikasi kisah ini bukanlah dengan maksud untuk mengeksploitasi cerita pilu dari seseorang. Hanya saja di sini saya melihat ada banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah ini. Ini bukanlah kisah sinetron apalagi cerita bohongan yang mengada-ada, melainkan ini kisah nyata yang benar-benar dialami oleh seorang ibu yang saya kenal di lingkungan tempat saya tinggal. Saya berharap dengan menulis kisah ini di blog, saya dan orang yang membaca bisa mengambil pelajaran yang berarti sehingga kita bisa terus bersyukur atas nikmat dan rezeki yang sudah diberikan Tuhan, Termasuk dengan keadaan yang super duper nyaman yang kita nikamati saat ini.

Sebut saja orang yang mengurut saya itu bernama Ibu Diana, kira-kira beliau sudah beumur 50-an lebih. Beliau memiliki 5 orang anak, 4 perempuan dan 1 laki-laki. Ibu Diana memiliki seorang suami yang jauh lebih tua dan saat ini sedang menderita sakit keras. Sebenarnya beliau dulu tinggal di dekat rumah saya, namun kemudian beliau pindah di daerah yang cukup jauh dengan tempat tinggal saya sekarang. Bisa dibilang dalam separuh hidupnya Ibu Diana harus mengarungi beberapa rintangan dan cobaan yang cukup berat. Coba bayangkan, dulu ketika beliau masih menetap di dekat rumah saya, salah satu anak perempuannya yang sebut saja namanya Rina pernah dipukul tanpa sebab dan alasan oleh salah seorang tetangganya. Tetangga yang memukul Rina ini memang cukup menderita gangguan jiwa dan kerap kali dia melakukan tindakan membahayakan dan diluar nalar sehingga orang-orang di sekitar komplek saya cukup dibuat khawatir akan ulahnya tersebut. Ayah dari orang itu tidak mau bertanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukan oleh anaknya tersebut. Bahkan sang ayah menjadi sangat benci terhadap Ibu Diana dan keluarganya, dia bahkan pernah berkata “Saya belum puas sampai melihat Ibu Diana dan Keluarganya mati!”.Ckckck, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh anak dan bapak itu!?”

Belum cukup sampai di situ, selang beberapa tahun kemudian Rina meninggal dunia. Saya kurang tahu apa penyebab Rina meninggal, tapi dari yang pernah saya dengar sih katanya dia sakit. Kalau kita bisa membayangkan bagaimana perasaan Ibu Diana sebagai seorang Ibu karena ditinggal mati oleh anaknya sendiri. Kemudian waktu berlanjut dan Ibu Diana kembali ditimpa cobaan, anaknya yang laki-laki ditangkap polisi karena, maaf, melakukan tindakan sodomi terhadap anak kecil. Kebetulan anak kecil ini juga merupakan tetangga saya. Anak laki-laki Ibu Diana ditangkap ketika dia sedang melakukan takbiran Idul Adha di lapangan dekat rumah saya beberapa tahun silam. Astaghfirullah.

Setelah itu Ibu Diana dan keluarganya pindah rumah dan beliau kerja ini-itu guna menyambungi hidup keluarganya, salah satunya adalah menjadi tukang urut. Beliau sering ke rumah untuk mengurut saya dan ibu saya. Beliau mendapatkan ilmu mengurutnya itu dari Ibunya sendiri. Saya kembali mendengar kabar bahwa anak perempuannya yang paling besar saat ini ditinggal pergi oleh suaminya tanpa sebab, padahal mereka sudah mempunyai anak. Belum lagi saat ini suami Ibu Diana sedang menderita sakit keras. Ya Allah betapa keras dan perihnya hidup yang dialami oleh Ibu Diani ini, selain cacian dan makian dari tetangga, beliau juga harus dihadapkan pada kepedihan batin. Akan tetapi kerasnya kehidupan dunia ini tidak menggetarkan niat Ibu Diana untuk terus melanjutkan hidup. Tidak sekalipun  beliau terlihat sedih ataupun meratapi keadaan sulit yang dia hadapi saat ini. Melainkan dia selalu terlihat santai dan enjoy namun tetap terlihat tegar. Tidak pernah pula saya melihat dia berwajah murung ataupun duka, mungkin di dalam hati beliau memang berkecamuk tapi dia berkayinan bahwa Allah pasti akan membantu dia sehingga membuat dia selalu tenang dalam menjalani hidupnya.

Kisah lainnya:

Saya memiliki seorang saudara perempuan di Sumatera yang sudah menikah lama dan memiliki dua orang anak perempuan yang sangat manis dan cantik. Kala itu anak yang paling besar masih SMP sedangkan yang masih kecil masih SD. Dalam mengarungi ranah rumah tangga dia kerap terlibat cek cok dengan suaminya. Masalah ekonomi memang menjadi momok utama dalam kehidupan mereka. Saya kenal betul dengan suaminya, sebut saja namanya Bang Budi, dia adalah seorang guru yang pekerja keras di salah satu sekolah di daerah Medan. Saking seringnya terlibat cek cok saya jadi suka rada sungkan untuk berkunjung ke rumahnya karena takut mengganggu. Tapi yang patut dijadikan contoh adalah saudara saya ini adalah orang yang sangat memiliki jiwa pekerja keras dan tak kenal lelah sama seperti suaminya. Dia selalu membantu siapapun dan sangat rajin tak pernah mengeluh. Sampai suatu ketika mungkin apa karena lelah akibat sering cek cok dan keadaan yang tak kunjung membaik, Bang Budi berselingkuh dengan perempuan lain dan lucunya tindakan memalukan dia ini diketahui secara tidak sengaja oleh saudara perempuan saya, yang notabene adalah istrinya sendiri. Jadi ketika saudara saya ini hendak naik angkot, secara tidak sengaja dia melihat suaminya sedang bermesraan dengan perempuan lain di dalam angkot sambil tangan sang perempuan sedang memangku di paha Bang Budi. Kontan saudara saya kaget dan kembali terlibat cek cok dengan Bang Budi.

Saking tak kuatnya menahan rasa sakit di batin yang bergejolak hebat ditambah lagi mereka yang sudah memiliki anak pula membuat saudara saya sempat memutuskan untuk bunuh diri. Tapi dalam posisi ini saudara saya juga selalu curhat dan berkonsultasi dengan ibu saya yang juga merupakan saudara kandung ibu saya. Dalam curhatnya dengan ibu saya beliau menceritakan kisah yang terjadi sebenarnya dengan Bang Budi dan keinginannya untuk bunuh diri. Akhirnya dengan pendekatan spiritual dan penjelasan yang diberikan oleh ibu saya dari hati ke hati serta pengertian yang dalam lagi untuk lebih memikirkan keluarga karena saudara saya sudah memiliki dua anak perempuan yang masih kecil-kecil dan butuh kasing sayang dari ibunya sendiri sehingga jangan sampai terjebak pada situasi yang pendek seperti memutuskan untuk bunuh diri.

Akhirnya dua tahun yang lalu saya dan keluarga besar dari ibu pergi merayakan lebaran di Suamatera sekalian juga ingin menasihati Bang Budi. Dalam kesempatan yang ada, ibu dan saudara lainnya menasihati dia dan dengan tanpa dosa dia memang mengakui bahwa dia berselingkuh. Ya Allah betapa sakitnya batin saudara perempuan saya itu. Seiring dengan berjalannya waktu akhirnya Bang Budi naik pangkat di pekerjaannya. Namun yang namanya luka bathin dari saudara saya itu akan tetap membekas dan mungkin akan susah hilangnya. Ditambah lagi mungkin dengan adanya kembali cek cok yang terjadi di rumah tangga mereka terus kenakalan yang masih dilakukan oleh Bang Budi, itu akan membuat bathin saudara saya akan terus meradang.

Kita tidak akan pernah tahu suatu kejadian akan berimbas bagaimana kedepannya bahkan untuk sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Beberapa bulan yang lalu tepatnya pada saat bulan puasa, saudara saya itu ditimpa cobaan dengan pendarahan hebat sehingga membuat badannya menjadi lemas tak berdaya. Keadaan itu membuat dia harus terbaring lemas di tempat tidur bahkan parahnya ketika disentuh kulitnya sedikitpun dia akan menjerit kesakitan. Astaghfirullah, apa yang sebenarnya terjadi pada saudara saya itu? Dalam teleponnya dengan ibu saya, ibu saya menangis karena tidak tega melihat cobaan yang dialami oleh saudara saya tersebut. Bahkan yang membuat saya tidak tega adalah di dalam teleponnya itu saudara saya meminta maaf kepada ibu saya bila terdapat kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan selama ini. Kata-katanya itu membuat saya dan ibu saya tak kuasa menahan air mata.  Karena saudara saya tinggal di lokasi yang sangat jauh dari ibukota sehingga mengakibatkan peralatan medis yang adapun akan sangat minim. Sehingga hal ini membuat saudara saya cukup lama menunggu untuk kemudian segera dipindahkan ke rumah sakit ibukota guna mendapatkan pelayan medis yang memadai. Akhirnya saudara saya yang didampingi oleh suaminya pindah ke ibukota untuk dirawat di rumah sakit di sana dengan harapan besar saudara saya itu segera tertangani. Kemudian setelah ditangani oleh dokter di sana, betapa semakin perih dan pilunya dia karena harus divonis menderita kanker serviks stadium 2B. Saya tidak mengerti mengapa saudara saya ini bisa divonis penyakit itu, apa penyebabnya dan bagaimana bisa terjadi, saya tidak mengerti sama sekali. Cuma dari sini saya dan keluarga hanya bisa berspekulasi bahwa penyakit ini adalah akumulasi dari bathin saudara saya yang tersakiti oleh suaminya sendiri. Bahkan kakak kandung dari saudara perempuan saya itu pernah tunjuk hidung langsung dan menyalahkan Bang Budi secara terang-terangan atas segala yang terjadi pada saudara perempuan saya ini. Ini memang terlihat tidak nyambung tapi seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa kita tidak pernah tahu rasa sakit yang kita alami akan berdampak seperti apa kedepannya. Kita memang tidak akan pernah tahu dan kita juga tidak akan pernah berharap sesuatu yang buruk akan terjadi namun ini semua memang di luar kuasa kita bahwa sesuatu yang tidak kita bayangkan sebelumnya akan terjadi. Allah swt. Maha Tahu. Dan sekarang saudara perempuan saya sedang berjuang untuk melawan penyakit kanker serviks tersebut. Semoga saudara saya segera sembuh dan pulih seperti sediakala dan saya ingin sekali bercerita kembali dengan dia.

Sekali lagi saya tidak bermaksud menulis cerita ini di sini untuk meminta belas kasih dari orang lain ataupun mengeksploitasi kisah orang lain. Di sini saya benar-benar melihat ada banyak sekali pelajaran berharga yang bisa saya ambil dan pelajari. Kadang, saya atau mungkin orang lain sering mengeluh seolah-olah kita adalah makhluk yang paling sering ditimpa cobaan dari Allah sehingga terkadang kita tidak sanggup menempuh hidup ini. Lantas, bagaimana dengan dua orang di atas yang sedang berjuang mati-matian melawan getirnya hidup? Terus bagaimana dengan orang-orang yang sedang ditimpa kelaparan, kemalangan dan susahnya hidup? Kita di sini masih nyaman, masih bisa makan dan menikmati hidup dengan baik dan enak. Ada segudang pelajaran yang bisa saya ambil dari Ibu Diana dan saudara perempuan saya ini. Saya berharap semoga Allah swt. senantiasa melindungi dan memberkahi mereka dan segera disembuhkan penyakitnya pula bagi saudara saya dan orang-orang lain yang sedang melawan penyakit keras. Kebahagiaan yang kekal abadi pasti akan menyertai mereka selalu seperti janji Allah swt. pada orang-orang yang bersabar, Amin Ya Robbal’alamin.

Salam,

Putri Permatasari

 

 

 

4 thoughts on “Kekuatan Seorang Perempuan

  1. i wonder… kenapa bisa ada orang yang nasibnya seperti peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga pula”, dan kenapa juga ada orang yang nasibnya kok mulus2 aja. akarnya gimana sih, kok bisa sampai gitu arah kehidupan masing2, kenapa yang satu bisa begitu nahas sedang yang lain begitu beruntung. naudzubillahimindzalik.

  2. sangat memprihatinkan cobaan yg di terima “Ibu Diana”, suatu saat beliau akan mendapat akhir yang indah. cerita selanjutnya gimana Kak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s