dari Georgia ke Turki

Kisah ini tepat terjadi setahun yang lalu ketika saya menghadiri acara the International Summer School of Leadership (ISS) yang diadakan oleh Harvard Instructors dari Harvard University. Dalam perjalanan menuju Georgia dari Jakarta (Indonesia), saya sempat transit dulu di Istanbul (Turki) soalnya kemarin naik Turkish Airlines makanya transit di sana. Perjalanan yang ditempuh itu sangat, sangat, sangaaaat jauh dan memakan waktu sekitar 15 jam. Georgia itu letaknya dekat dengan Azerbaijan, Armenia, juga Rusia. Karena lokasinya yang berdekatan dengan Rusia itu maka banyak sekali orang-orang Georgia yang bisa berbahasa Rusia walaupun bahasa nasionalnya adalah bahasa Georgia. Satu hal lagi, bahasa Georgia itu sangatlah susah, belum lagi dengan intonasi dan prononsiasi yang susahnya na’udzubillah, hehe.

Karena saat itu bertepatan dengan bulan suci ramadhan maka selama 2 minggu berada di Bazaleti, Georgia sayapun berpuasa di sana. Agak susah sih melakukan puasa di sana dengan jangka waktu berbuka yang lumayan lama. Jadi kalau diestimasi, waktu imsaknya itu jam 6 pagi terus buka puasanya itu jam setengah 9 malam. hehe, bayangin aja berapa lama tuh!? Selama di sana memang sih saya tidak 2 minggu full berpuasa hanya saja saya absen 3 hari. Itupun disebabkan karena:

1. Perut saya tiba-tiba sakit dan gak enak. Ini disebabkan karena saya lumayan sering ngalamin maag karena sering telat makan, hhehe

2. Waktu itu pernah ada kegiatan lapangan di pusat kota Tbilisi (ibukotanya Georgia). Karena saat itu sedang musim panas maka pas siang hari saya puas banget dibakar sama matahari. Mana kegiatan lapangan itu saya jalan-jalan kaki lagi, alhasil saya enggak kuat lagi dan akhirnya buka puasa ditengah jalan deh.

3. Waktu sehari sebelum pulang balik ke Indonesia, saya sempat menginap di salah satu rumah teman saya dari Georgia yang sangatlah cantik dan baik. Nama mereka adalah Tatia Gorgodze dan Magda Tavkelidze. Sebenarnya saat itu saya sudah berpuasa tapi karena ibunya Tatia sudah mempersilahkan saya dan meyiapkan banyak sekali makanan yang enak-enak khusus untuk menyambut saya. Alhasil saya jadi merasa gak enak juga sama beliau dan pada akhirnya saya membatalkan puasa saya pada pagi hari itu.

Di sana saya bertemu teman-teman dari Georgia dan luar Georgia yang sangat menyenangkan. Banyak dari mereka yang kaget dan aneh melihat saya yang berpuasa pada saat acara itu. Karena sebenarnya ada juga beberapa teman dari Azerbaijan yang juga muslim akan tetapi mereka tidak berpuasa. Tapi kan selagi masih mampu dan bisa, dimanapun itu ya, saya berusaha untuk melakukan perintah Allah swt. termasuk salah satunya adalah melakukan puasa Ramadhan dan sholat 5 waktu di sana. Karena mereka melihat saya cukup religious sampai-sampai saya pernah berada di dalam satu percakapan dengan teman-teman di sana, kira-kira seperti ini percakapannya::

Nico (salah satu teman saya yang orang Georgia): “Kamu apakah tidak lapar atau haus dengan berpuasa seperti itu?”

Saya: Tidak, saya sama sekali tidak merasakan hal itu, mungkin karena  sudah niat juga kali ya.

tiba-tiba teman saya yang lain yang bernama Mariam (nama Mariam di Georgia itu banyak sekali loh, mungkin kayak nama Putri di Indonesia, hehe) ikut menimpali,

Mariam: “kamu melakukan hal-hal apa saja sih yang buat nyenengin diri kamu?”

Nico: “Iya, kamu itu melakukan hal-hal apa saja sih yang bisa menyenangkan diri kamu??”

Saya: “banyak, banyak banget seperti jalan-jalan, belanja, menonton film”

tapi ternyata hal-hal yang saya sebutkan di atas ini sudah sangat membosankan untuk ukuran mereka (ya, iyalah mungkin kali ya!? haha)

Nico: “Oh God, that’s boring! You know, I do a lot of interesting things here. I drink alcohol, I go clubbing, I do a girl, bla, bla, bla

Saya: “What!?” you do a girl!?” (jawaban saya dalam hati)

“I do a girl” yang artinya sama saja dengan “I have sex with a girl” itu dia katakan dengan enteng dan biasa-biasa saja, malah bisa dibilang kalau dia itu mengatakannya dengan sangat bangga. Ya ampun, saya yakin bukan hanya di negara jauh macam Georgia saja yang menganggap hal itu lumrah dan biasa-biasa saja, melainkan di Indonesia ini juga pasti akan menanggapi hal semacam itu juga dengan biasa-biasa saja. Tapi jujur, saya cukup kaget mendengar hal seperti itu dari dia, seolah-olah dia biasa saja melakukan hal seperti itu. Bisa dibilang kalau ,maaf, melakukan have sex di Indonesia itu masih tabu. Tapi itu mungkin sudah tidak lagi untuk saat ini, mungkin kalaupun di sini ada yang mengganggap hal itu biasa saja atau bahkan juga sudah ada yang melakukan itu, tapi mereka akan cenderung untuk tidak mengumbar hal itu kepada khalayak umum a.k.a off the record saja. Hal itu disebabkan karena di Indonesia juga masih ada yang memegang erat agama sehingga melakukan have sex adalah suatu dosa besar.

Bukan maksud saya mau sok suci atau ngerasa yang paling benar, tapi di sini saya melihat bahwa kita memang ada baiknya membentengi diri kita dengan kaidah dan kekuatan agama yang baik sehingga kita dapat terhindar dari hal-hal yang merugikan, salah satunya adalah have sex sebelum nikah tersebut. Nilai agama itu sangat penting jadi baguslah bila kita membalut raga dan pikiran kita dengan dasar dan fondasi agama yang kuat. Menurut saya sih ketika sudah banyak sekali orang yang terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang tidak benar, ada baiknya bila kita atau siapapun yang mampu deh, untuk memperingatkan orang2 tersebut agar segera meninggalkan hal buruk itu. Nah baik yang memberi tahu dan diberi tahu harusnya juga bisa saling menghargai. Toh kita hidup di dunia ini juga tidak sendiri, jadi boleh dong kalau ada yang melakukan kesalahan terus kita memperingatkannya!?

Kejadian yang hampir sama juga terjadi ketika saya berada di dalam pesawat menuju Istanbul dari Tbilisi. Di sana saya duduk di pesawat bersama seorang Turki. Sebenarnya saya berkenalan sama orang ini ketika kami sedang mengantri di airbridge menuju pintu pesawat. Jadi, ketika sedang mengantri tiba-tiba handphone dia jatuh dan saya mikirnya itu hp saya soalnya mirip banget sumpah (hedeh kyk di sinetron2 aja deh). Jadilah kita berkenalan dan ngobrol setelah itu. Ternyata obrolan kita berlanjut sampai di dalam pesawat yang memang kita duduk percis bersebelahan (ya ampun, bisa gitu ya, kayak filmnya Rachel McAdams di “Red Eye”, cuma di sini dia orangnya gak sadis kayak Cillian Murphy kok, haha). Habis itu kita ngobrol dan saya sedikit bertanya mengenai orang muslim di Turki.

Pokoknya pada intinya dalam obrolan ini secara tidak langsung dia menunjukkan hal-hal maksiat yang telah dia lakukan sebagai seorang muslim di negaranya yang sekuler (ini nih contoh dari produk sekuler). Dia kembali mengatakan dengan bangganya bahwa dia suka sekali minum minuman beralkohol, makan daging haram, tidak sholat dan beribadah ke mesjid, tidak puasa, dan dia juga melakukan have sex. Jadi orang itu dan komunitasnya itu sering mengkaji ilmu islam yang bila menurut komunitasnya itu masuk akal maka akan dia lakukan. Akan tetapi bila itu tidak masuk akal, maka mereka akan meninggalkannya. Padahal sebenarnya di dunia ini ada banyak hal yang memang diluar kuasa kita atau di luar akal dan jangkauan pikiran manusia, sehingga kita tidak dengan mudah saja untuk mengkajinya kemudian langsung meninggalkannya seperti itu. Jadi, begitu dia mengatakan hal itu tiba-tiba saya bergumam dalam hati “ya ampun, ternyata yang menghancurkan islam itu bukan orang-orang non islam, melainkan orang-orang islam itu sendiri”. Tapi peryataan saya ini tidak juga sepenuhnya benar karena tidak semua orang islam melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang Turki tadi.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya menyimpulkan bahwa sebenarnya saya harus bersyukur bahwa di Indonesia ini ‘faktor agama’ cukup kuat berpengaruh, walaupun memang masuk kedalam ranah pribadi masing-masing tapi alhamdulillah tidak sampai melupakan esensinya untuk selalu kita kaitkan dalam kehidupan kita. Saya tidak habis pikir bagaimana bila Indonesia akan seperti turki menjadi negara Sekuler. Jangan! Saya bersyukur sekali bahwa islam masih cukup kuat mendarah daging di tubuh penduduk Indonesia ini. Bahkan ekstrimnya, saya berpikir bahwa, ada baiknya juga Indonesia tetap berada di dalam kondisi yang seperti ini dan tidak menjadi negara super maju dan canggih macam Jepang atau Korea; tapi bukan juga berarti negara ini tidak memiliki progres yang baik. Maksud saya, di sini saya senang karena penduduk Indonesia masih dapat beragama dan bertoleransi dengan baik. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bila suatu saat nanti Indonesia menjadi negara super maju dan melupakan esensi agama dan budaya yang kita miliki. Saya bilang seperti ini karena menurut saya bangsa Indonesia itu masih sangat mudah untuk dipengaruhi sehingga jadi mudah untuk ikut terbawa oleh hal-hal yang masih dianggap tabu di sini. Semoga di sini kita bisa menjadi manusia yang lebih, lebih, lebih baik lagi setiap harinya. Amin

Salam,

8 thoughts on “dari Georgia ke Turki

  1. klo baca cerita ini, kyaknya lebih puas dgr dari orgnya lngsung🙂, karena jauh lebih banyak dan kmpleks dari yang ditulis. terlalu banya yg mau ditulis ya pu hehehee. gud luck Pu chan

  2. Wah Mbaak… Aku suka dengan cerita macam gini. Jadi memperluas wawasan meski enggak ikut ngalamin. Keep sharing Mbak, biar orang2 yang baca terinspirasi.😀

    Salut deh Mbak bisa tetep berpuasa di kondisi kayak pas di Georgia sana. Bocor sesekali bisa dimaklumi sih, asal jangan lupa di-qada ya Mbak hihihi. Asyik ya bisa main ke rumah warga Georgia gitu dan dijamu sama mamanya orang sana. Kulinernya khas enggak nih, Mbak? Mungkin bisa di-share juga?😉

    • Hi dayeuh, iya alhamdulillah msh bisa menjalankan ibadah puasa di Georgia waktu itu. Iya day, qt saling meng-share ilmu&pengalaman ya. Km jg klo ada hal2 yg baru, di share k mbk jg ya!?🙂 Hehe, iya day, di qadha itu sudah wajib ya, haha. Untuk makanan sebenarnya punya Indo lbh lezat loh tp Georgia jg enak2 koq. Sebagian kulinernya sudah mbk post di tulisan “Plays With Foods”. Dicek aja di sini, Makasih ya dayeuh sayang udah comment lg di blog mbk. Semangad ya day semoga qt sukses selalu! Amin. d:-)b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s