Ada Si TRANSPORTER Mendadak :::

         Kejadian ini terjadi sekitar dua atau tiga hari yang lalu ketika saya habis membeli buku di salah satu toko buku terkenal di Yogyakarta yaitu “Toga Mas”. Saya kesana bareng teman kos saya yang memang bekerja di sana. Begitu sampai di toko buku tersebut, langsunglah saya mencari buku yang sudah saya incar sejak beberapa bulan yang lalu. Bahkan saking pengennya dengan buku tersebut saya sampai menyisihkan uang saya demi membeli buku tersebut. Tetapi uang tabungan saya akhirnya leburr juga di Bandung karena tertarik untuk membeli long cardigan ketika saya sedang berlibur di sana plus sembari menemui adik saya yang memang sedang kuliah di Bandung.

         Pasti penasaran dong dengan buku yang ngebet banget pengen saya beli? haha, judul buku itu adalah “Cleopatra” tapi saya lupa betul sama pengarangnya. Pokoknya pengarangnya itu menang Pulitzer begitulah. Buku itu menceritakan mengenai kisah yang lebih detail lagi mengenai Cleopatra. Selama ini saya penasaran banget dengan kisah Cleopatra yang melegenda itu. Hal ini disebabkan kebanyakan dari buku-buku sejarah hanya menceritakan kisahnya secara general saja dan film-film yang mengangkat kisah Cleopatra pun sudah dibikin beberapa kali sehingga pasti ada esensi yang tidak sama. Oleh karena itu alasan itulag saya pengen banget beli buku itu dengan harapan bisa mendapatkan informasi yang lebih mendetail dan spesifik lagi mengenai kisah hidup Cleopatra tersebut. Tapi di sini saya tidak akan mebeberkan review mengenai buku Cleopatra tersebut karena setelah saya melakukan pertimbangan dan perdebatan dengan diri saya, pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak membeli buku tersebut dengan alasan ada buku yang lebih menarik untuk saya baca bulan ini, hahaha. Akhirnya kembali saya putuskan untuk membeli buku Cleopatra tersebut di bulan depan.

       Sebelum saya memutuskan untuk membeli buku bulan ini, sebetulnya saya sudah melakukan observasi terlebih dahulu di Gramedia (halahh, opo toh bahasanya!?) mengenai buku-buku best seller yang cocok sekali untuk saya baca sehingga jatuhlah pilihan saya pada buku yang berjudul “Selimut Debu-Impian dan Kebanggan Dari Negeri Perang Afghanistan” karangan Agustinus Wibowo yang sebelumnya beliau sudah menerbitkan buku yang berjudul “Garis Batas”. But again, di sini saya tidak akan melakukan ulasan mengenai buku tersebut karena niat saya menulis cerita kali ini adalah bukan untuk mereview sebuah buku. Saya tertarik membeli buku tersebut karena pada dasarnya saya sangat menyukai kisah berlatar belakang atau pengalaman nyata, terlebih bila itu disajikan dalam nuansa yang berbeda seperti perjuangan hidup dan harapan orang untuk bertahan hidup dan membangun harapan dan cita-cita mereka walaupun mereka hidup dalam situasi yang kompleks atau kacau. Karena dari situ saya bisa memahami dan mengambil proses yang mereka ambil untuk membangun harapan dan meraih cita-cita mereka walaupun situasinya sangat sulit. Hal itulah yang menyebabkan saya kurang begitu menyukai novel fiksi fantasi macam Harry Potter, Twilight atau Eragon dsb.

         Akhirnya jadilah saya membeli buku “Selimut Debu” tadi dan “the Naked Traveler 3” nya Trinity, karena saya juga sangat menyukai jalan-jalan dengan harga yang miring. Jadi bisalah buku itu saya jadikan acuan untuk backpacker ria apalagi kalau dengar dari kata-kata orang sih buku itu bagus dengan gaya bahasa yang ringan, segar dan lucu, walaupun saya terhitung terlambat baru membeli dan membaca buku Trinity sekarang ini.  Saat itu saya sudah selesai dengan urusan pencarian buku kemudian saya pamit dengan teman kos saya tadi dan merencanakan untuk segera cap cus pulang. Karena saat itu sudah pukul 4 lewat, sudah cukup sore memang dengan kemunculan bis yang jarang pula. Akhirnya saya menyebrang jalan dan menunggu bis di pinggir jalan. Cukup lama saya menunggu bis di pinggir jalan tersebut ditambah saat itu saya kehausan. Saya tepat berdiri di depan salah satu kafe yang ada di dekat toko buku tadi. Sempat terpikirkan oleh saya untuk membeli aqua di sana tapi kemudian saya urungkan karena pasti harganya bikin kaget. Lagi juga tidak enak pula di kafe segede gitu saya cuma beli aqua doang. Aqua doang mah beli di warung juga bisa. Alhasil konsentrasi saya kembali terfokuskan untuk menunggu bis yang tak kunjung datang. Karena saya capek berdiri menunggu bis, saya langsung minta ijin sama tukang parkir yang ada di sana untuk numpang duduk di kursi panjang yang ada di sana. Saya sempat bercengkrama sebentar sama tukang parkir tersebut. Sambil ngobrol dan tetap bis yang tak kunjung2 datang, akhirnya saya putuskan untuk sms salah satu tukang ojek langganan saya (info:: akan menjadi langganan ding, jd skg statusnya msh belum langganan sama tukang ojek itu). Ternyata si tukang ojek tadi lagi di luar Jogja. Kemudian saya lanjutkan kembali pembicaraan dengan si tukang parkir tadi.  Setelah ngobrol2, si tukang parkir meninggalkan saya dan masuk ke dalam kafe. Selang beberapa menit kemudian, juru parkit itu kembali ke tempat saya dan mengatakan bahwa ada orang di kafe yang mau mengantarkan saya pulang. Hahh, saya kaget sih karena saat itu saya cuma ingin menunggu bis dan ternyata sang juru parkir berbaik hati sekali mencarikan orang yang ada di dalam kafe untuk mengantarkan saya pulang. Karena sudah sangat sore dan saya juga menyerah dengan keberadaan bis saat itu, akhirnya saya mengiyakan tawaran tukang parkir tersebut.

         Awalnya saya dan si transporter dadakan tadi deal dengan bayaran 5000 rupiah untuk perjalanan dari Toga Mas ke kos saya. Menurut saya yah, tak apalah lagi juga bis atau angkutan umum di Jogja kalau sudah sore begini susah banget dicarinya. Daripada naik taksi yang justru bakal lebih mahal lagi, enggak deh males.

         Selama perjalanan pulang si transporter tadi menanyakan pacar saya yang tidak menjemput saya “Koq gak dijemput sama pacarnya mbk?” kemudian saya bilang “Pacar saya sekarang lagi KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Bantul mas, jadi gak mungkinlah saya minta dia ke sini sekarang hanya untuk menjemput saya. Itu mah namanya kejam juga atuh mas”. Kemudian sampailah saya di kos, setelah itu saya mengeluarkan uang dari dompet dan hendak membayar transporter tadi. Tapi ternyata oh ternyata sang transporter tadi malah bilang “Oh gak usah mbk, gak enak saya, benar deh mbk gak usah bayar, gak papa koq”. Cukup kaget dengan pernyataan sang transporter/pengantar tadi karena kan sebelumnya sudah deal dan dia juga sudah dengan baik mau mengantar saya, jadi tak apalah saya kasih imbalan walaupun nominalnya gak seberapa banget. Setelah pernyataan tadi saya cuma bilang “Hahh, koq gitu mas??” Kemudian si transporter tadi bilang “Iya mbak gpp, benar gpp mbk”. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih sekali pada si pengantar tadi karena sudah dengan baik hati mau mengantar saya walaupun saya juga sebenarnya gak enak sama mas nya karena dia tidak mau dibayar. Saya hanya berdoa di dalam hati semoga mas pengantar tadi diberi rezeki dan berkah yang banyak oleh Allah swt. Amin. Ini memberikan saya pelajaran betul bahwa dimana dan kapanpun ketika kita sanggup untuk melakukan kebaikan maka lakukanlah. Mungkin ini bukanlah suatu kisah yang spesial karena saya yakin semua orangpun pasti pernah mengalami hal yang seperti ini. Hanya saja di sini saya ingin mengambil pelajaran berharga untuk bisa berbuat baik tanpa ragu-ragu walaupun sebenarnya mungkin kita juga sedang berada dalam posisi yang sulit seperti si pengantar tadi. Semoga berguna untuk kita semua ya.

Salam,

Putri Permatasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s