Masa Kecil yang Indah Part 2

         Aha! Akhirnya kembali lagi buat ng-blog tentang Masa Kencil yang Indah, tapi kali ini untuk sesi yang kedua karena sebelumnya saya sudah menulis tentang ini di Masa Kecil yang Indah Part 1. Hemm, ya ampun memang enak ya membahas kenangan masa kecil dulu. Bukan maksudnya pengen balik lagi ke masa lalu terus hidup kita jadi gak move on, bukan, bukan seperti itu, hanya saja ketika kita mengingat masa lalu yang indah dengan segala sesuatu yang dihadirkan sesuai dengan kondisi kita rasanya sangat cocok bila itu dihadirkan kembali pada saat ini. Sebagai contoh adanya lagu anak-anak, tayangan anak-anak&kartun yang bermutu, sinetron anak-anak yang mendidik, permainan anak-anak masa kecil, dll. Coba bayangkan saat ini mana ada lagu anak-anak, orang permainan anak-anak yang dulu pernah saya mainkan seperti petak umpat, gobak sodor, tak jongkok, colek sabun, BT 7, baju-bajuan, main karet, saat ini jarang sekali kita temukan di sini. Anak-anak sekarang lebih suka main permainan di komputer atau jejaring sosial macam facebook, twitter, myspace, dll. Miris memang melihat hal seperti itu saat ini, apalagi ditambah dengan banyaknya tayangan tidak bermutu di TV juga tidak adanya lagu anak-anak masa kini. Tapi yang merindukan kenangan masa kecil tentu bukan saya saja, saya yakin hampir semua orang yang pernah merasakan indahnya masa kecil dulu pasti  benar-benar merindukan kenangan itu kembali lagi pada masa sekarang ini.

         Kembali ke masa-masa tahun 1990-an ketika saya masih SD pasti masih pada ingat dong (kalau yg masih pada ingat ya, hehe) dengan beberapa tayangan sinetron yang pernah merajai televisi swasta di negeri ini. Dulu waktu TVRI masih menjadi stasiun pertama di Indonesia ada banyak banget loh sinetron kita yang hadir disana dengan nuansa yang sangat sederhana namun hebat dan mendidik. Jarang banget ditemukan pada sinteron-sinetron sekarang ini, contohnya kayak “Jendela Rumah Kita”, “Pondokan”, “Sayekti dan Hanafi”, “Siti Nurbaya”, “Losmen”, “Aku Cinta Indonesia (ACI), dll”. Dari kesemua contoh yang saya sebutkan ini banyak yang menghadirkan sisi kesederhanaan, moral dan nilai penting dalam kehidupan sehingga membuat sinetron ini menjadi sangat mendidik. Selang beberapa waktu kemudian bermunculah televisi swasta macam RCTI yang merupakan stasiun TV Swasta pertama di Indonesia yang kemudian disusul SCTV, TPI, Indosiar, ANTV, Metro TV, dsb (maaf, saya kurang begitu tahu daftar detail urutan sejarah mereka). Awalnya RCTI menyajikan tayangan impor luar negeri macam “Baywatch”, “Friends”, “Beverly Hills, 90210”, “McGyver”, “Knight Rider”, “Airwolf”, “The A Team”, “Quantum Leap”, “The Flash”, “Party of Five”, “Full House”, “Wonder Woman”, “Sindbad”, “Ally McBeal” dan masih banyak lagi. Setelah tayangan impor tersebut ditambah lagi dengan perfiliman kita yang kala itu sedang lesu-lesunya dengan tingkat stadium kronis, RCTI kemudian menghadirkan sinetron Indonesia jadul seperti “Saat Memberi Saat Menerima” yang dimainkan oleh Desi Ratnasari dan Elma Theana; “Hati Seluas Samudera” yang dimainkan oleh Paramitha Rusadi, Jeremy Thomas dan Anjasmara; “Bella Vista” yang dimainkan oleh Venna Mellinda dan Angel Ibrahim; “Janjiku” yang dimainkan oleh Paramitha Rusadi dan Reynold Surbakti; “Angin Tak Dapat Membaca” yang dimainkan oleh Adam Jordan dan Eksanti, “Noktah Merah Perkawinan” yang dimainkan oleh Ayu Azhari dan Cok Simbara dan lain-lain. Ternyata sinetron tersebut sangat menarik minat penonton sehingga mulai dari situlah sinetron terus berkembang hingga saat ini. Dulu waktu masih kecil (masih SD, red), saya senang sekali menonton sinetron-sinetron di atas bersama dengan ibu saya. Biasanya saya baru boleh diijinkan menonton TV kalau saya sudah mengerjakan PR dan belajar. Alhasil, jadilah saya dan ibu saya menonton sinetron itu sebagai hiburan, haha.

         Sebenarnya jauh sebelum sinetron jadul tadi ditayangkan di TV, RCTI sudah menayangkan berbagai program komedi lokal yang segar untuk dinikmati keluarga, seperti “Gara-Gara” yang dimainkan oleh Lydia Kandau, Jimmy Gideon, dan Sion Gideon; “Ada-ada Saja” yang dimainkan oleh “Nurul Arifin”, “Rudy Salam” dan “Kiki Fatmala”; “Lika-Liku Laki-laki” yang dimainkan oleh komedian 4 sekawan dan Ria Irawan sebagai mbak penjual jamu (kayaknya dulu Ayu Azhari jg sempat memerankan peran ini deh); “Kanan Kiri Oke” yang dimainkan oleh komedian Kadir, Doyok dan Diana Pungky, “Flamboyan 108” yang dimainkan oleh Deby Sahertian, dll. Tayangan komedi ini dulu sangat segar dan menghibur saya dan keluarga. Tidak heran bila kala itu saya dan keluarga sangat menantikan program komedi ini. Bersamaan dengan itu muncul pula serial laga berbalut drama seperti “Deru Debu” yang dimainkan oleh Willy Dozan dan “Jacklyn” yang dimainkan oleh Ayuni Sukarman dan Marcellino Leftrand. Ohya satu lagi jaman dulu juga ada lawakan super lucu dari komedi situasi macam “Ngelaba”, “Bagito Show” dan “Chatting” yang mempopulerkan grup lawak Patrio, Bagito dan Cagur.

Jin dan Jun

Jhinny oh Jhinny

         Menurut saya walaupun sinetron jadul itu teuteup berbalut kemewahan dan derai airmata tapi paling tidak mereka tetap mengandalkan isi cerita. Memang agak berbeda sih dengan sinetron pendahulunya di TVRI yang sudah saya sebutkan sebelumnya, ketika di sana sangat menonjolkan sisi kesederhanaan, kala itu sinetron TV swasta masih tetap berpegang pada sisi kekuatan isi cerita walupun mulai menonjolkan sisi kehidupan modern nan mewah. Jelas berbeda betul dengan opera sabun a.k.a sinetron kala ini dimana aduh ampun-ampunan deh ceritanya ngalor-ngidul banget dengan episode yang gak jelas kapan bakal selesai. Betul-betul tidak konsisten dalam membuat suatu cerita. Saat ini seringkali digambarkan tokoh/karakter ABG dan pelajar sekolah dengan penampilan yang tidak sesuai semestinya. Saya sering kali melihat adegan sinetron gak beres dimana disitu para pelajar sekolah memakai asesoris gonjrang-ganjreng nan norak ketika mereka pergi ke sekolah. Apa-apaan itu coba?! Belum lagi dengan sifat antagonis yang super kejam dan jahat yang kerap ditampilkan pada kebanyakan sinetron saat ini dengan akting si protagonis yang super lebay cengeng gak berdaya menghadapi lawannya. Ada satu adegan paling parah dalam sinetron yang pernah saya tonton beberapa tahun silam dimana di sinetron itu ditampilkan adegan menyiksa yang dilakukan oleh ibu tiri dan anaknya kepada seorang anak gadis dengan mencelupkan tangan si anak gadis tersebut ke dalam wajan yang berisi minyak panas di atas kompor yang sedang menyala-nyala. Dan adegan tersebut ditayangkan di prime time dimana semua umur termasuk anak-anak dapat mononton tanyangan tersebut. Siapa yang tidak akan geleng-geleng kepala dan mengelus-elus dada melihat adegan kacau itu ditayangkan oleh sinteron Indonesia saat ini. Saat ini masyarakat Indonesia butuh hiburan yang menyegarkan, menghibur tapi tetap ada esensi sosial dan kehidupan di dalamnya tanpa harus menghilangkan sisi budaya dan kesederhanaan yang sudah menjadi jati diri kita sebagai orang Indonesia yang membanggakan. Mungkin sampai saat ini saya baru bisa mengatakan bahwa sinetron “Keluarga Cemara” dan “Si Doel Anak Sekolah” lah yang merupakan sinetron terbaik Indonesia yang pernah ada. Everybody just loves it. Kedua sinetron tersebut mengajarkan kesederhanaan, kesopanan, usaha, tanggung jawab, semangat, dan nilai-nilai spiritual di dalamnya. Hal ini terlihat dari si Si Doel yang selalu rajin sholat dan beribadah demi meraih cita-citanya. Tak heran dengan kepintarannya itulah maka Si Doel yang diperankan oleh Rano Karno di gilai oleh dua wanita cantik jelita yang diperankan oleh Cornelia Agatha dan Maudy Koesnaedy. Sedangkan di Keluarga Cemara tidak jauh berbeda dengan cerita Si Doel yang sangat mengajarkan kesederhanaan, semangat, saling sayang dan menghormati di dalam keluarga serta tanggung jawab yang ada. Itu semua melebur menjadi satu sehingga menghasilkan cerita yang luar biasa menakjubkan dari tangan Arswendo Atmowiloto dalam kisah ini. Kesederhanaan dan rasa saling menyayangi antar keluarga menjadi kekuatan utuh dalam cerita Keluarga Cemara dan Si Doel yang menjadikan kedua sinetron ini menjadi sangat berkesan bagi para penikmat sinetron kala itu. Saya pribadi menyukai sinetron itu selain alasan yang sudah saya sebutkan ini adalah karena sinetron ini benar-benar memperlihatkan kehidupan yang sangat dekat dengan saya dan masyarakat Indonesia lainnya, yaitu kehidupan yang apa adanya dengan menampilkan rumah sederhana, kumpul bareng keluarga, dialog-dialog natural sederhana nan jenaka yang kerap dilontarkan para pemain benar-benar membuat saya berada dekat dalam cerita itu. Karena memang tidak semua dari kita bergelimpangan dengan kemewahan yang selalu dicitrakan oleh sinetron sekarang ini dengan rumah, mobil, motor, perabotan, dan pakaian super mewah yang setiap hari diisi dengan kegiatan hedon nge-mall dan dugem serta tindakan sia-sia lainnya yang menguras uang orang tua. Dua sinetron hebat di atas benar-benar tidak mengajarkan hal itu, satu kata hebat yang sangat mewakili Keluarga Cemara dan Si Doel adalah SEDERHANA.

Ini adalah sinetron terbaik untuk “Keluarga Cemara” dimana ada tokoh sentral Abah, Emak, Ara, Agil, dan Euis

         Ini dia sinetron “Si Doel” yang fenomenal itu.mangtab!

Gambar untuk sinetron “Bella Vista”

         Beberapa waktu yang lalu saya sempat menonton sinetron TVRI di pagi hari. Saya kurang tahu pasti nama para pemain dan cerita yang dihadirkan dalam sinetron itu tentang apa. Akan tetapi cerita yang dihadirkan dalam sinetron itu mengenai hubungan kasih sayang antara ibu dan anak yang sangat dekat. Dalam cerita ini juga ditonjolkan sisi kesederhanaan para pemain baik mulai dari rumah mereka, gaya berpakaian sampai gaya berbicara mereka yang juga sangat santun dan manis tanpa dilebih-lebihkan. Begitu saya menonton itu, saya tiba-tiba jadi teringat kembali pada sinetron-sinetron jadul mendidik yang dulu pernah saya tonton bersama keluarga. Kalau saja sinetron saat ini juga mengikuti cerita seperti alur yang disajikan serial TVRI ini pasti banyak orang yang akan menyukai. Dan satu hal yang perlu diingat lagi dalam serial TV saat ini adalah STOP deh hal-hal yang berbau mistis atau tidak masuk akal, seperti berkawan dengan peri, tiba-tiba ada hantu, suasana jadi seram gitu, dll. Oke boleh-boleh saja mengangkat tema fantasi seperti itu asalkan harus jelas dari segi cerita dan plot. Lihat dulu bagaimana “Jin dan Jun”, “Tuyul dan Mbak Yul”, dan “Jhinny Oh Jhinny” mendulang sukses di sini dan banyak menarik penonton. Menurut saya hal itu disebabkan cerita-cerita yang disajikan dalam sinetron fantasi itu memiliki kekuatan, kejelasan dan aneka ragam cerita yang dihadirkan setiap episodenya dengan membumbui sisi komedi jenaka, tak berlebihan, segar dan natural tanpa terlihat dipaksa dari para pemain, serta tak lupa memberikan pesan pada penonton sehingga bisa menjadi edukasi juga bagi yang menonton walaupun bertemakan fantasi. Saya rasa sinetron bertemakan fantasi dan imajinasi yang terjadi saat ini tidak terpengaruh pada hal-hal yang disebutkan di atas. Mereka hanya menonjolkan sisi keanehan dengan esensi cerita per episode yang sama sekali tidak jelas. Coba deh kembali lagi ingat bagaimana serial “Si Entong” yang dulu pernah ditayangkan oleh TPI yang sekarang berubah menjadi MNC TV disukai penonton kala itu? Ketika sinetron sekarang kembali pada esensi cerita yang kuat dan tidak ngalor ngidul dalam membuat cerita yang kemudian dikemas dalam balutan kesederhanaan, suka cita dan kultur Indonesia yang kuat, saya yakin sinetron Indonesia pasti lebih dihargai lagi oleh masyarakat. Saya rasa dengan kemajuan jaman dengan tingkat kecerdasan orang yang semakin meningkat pula justru dapat membuat suatu hasil karya yang dapat dinikamti banyak orang. Lihat bagaimana banyak sekali orang yang menghujat sinetron Indonesia karena ceritanya yang sama sekali tidak bagus sehingga membuat mereka beralih pada serial TV luar negeri. Oleh karena itu mulailah sesuatu yang berkualitas, karena di sini sedang membicarakan karya seni dalam bentuk opera sabun. Mulailah untuk membuat sesuatu yang benar-benar baru yang diharapkan orang banyak. Lihat kehidupan Indonesia lebih dalam lagi, tanpa harus menghina atau menyindir, kita semua senang dengan kisah atau cerita yang bermutu dan sesuai dengan apa yang nyata pada masyarakat Indonesia.

ini nih sinetronnya “Si Entong” ntuh

Para pemain “Si Entong” ternyata sudah pada besar2 ya tp koq kayaknya si entong itu lebih kece pas dia masih kecil deh, uups

         Sebelumnya mohon maaf ya tulisan ini kebanyakan banget dan jadi bikin males baca tapi ini hanya unek-unek saya koq akan kemajuan tayangan bermutu dalam serial TV Indonesia. Kita menjadi pintar bukan hanya dari membaca buku, menonton berita atau mendengarkan radio saja. Akan tetapi unsur seni yang dihadirkan seperti lagu, film, serial TV juga bisa membuat kita menjadi lebih cerdas asalkan itu sesuai dengan nilai dan kultur yang ada sehingga dapat mendidik bagi siapa yang mendengar dan menontonnya sehingga kenangan masa kecil nan indah dahulu bisa kembali kita nikmati di jaman sekarang ini. Terima Kasih.

Best,

Putri Permatasari

10 thoughts on “Masa Kecil yang Indah Part 2

  1. Pingback: Masa Kecil yang Indah Part 3 | futureputri

  2. saran dan kritik yg cocok sama keadaan sekarang, mudah mudahan para produser membaca artikel ini. tidak melulu kejar rating dngan mengorbankan isi cerita.
    maaf sbelumnya kalo kata2 tidak beraturan.

  3. Terharu ketika mengingat masa kecil dengan tontonan yg mendidik dan menjunjung tinggi moralitas budaya ketimuran yg penuh dengan kesopanan.
    Rindu akan “Keluarga Cemara” dan “Si Doel Anak Sekolahan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s